Wednesday, March 30, 2016

Hari ini

tiba2 semangat menggebu menyelesaikan assignment yang sudah menanti sejak 2 minggu lalu untuk disentuh.

seperti biasa, konsentrasi ku terpecah. Entah sejak kapan, sering kali ini terjadi. Berangan, berimajinasi kala mengerjakan suatu hal. Pikiran terbang melayang pada segala hal mungkin bahkan tak terjamah.

Setelah sekian jam mengerjakan, sampai ku pada titik jenuh. Okay, sekarang rest dulu. Seperti kebiasaan, aku sempatkan tiap hari baca berita berbahasa jerman maupun berbahasa Indonesia. Ceritanya biar ga ketinggalan berita aja. Sejujurnya, udah mulai muak dengan segala yang diberitakan. Memihak, berkepentingan, ditutupi. Mereka kira semua orang buta, tuli dan dangkal. Mereka pikir tak ada lagi orang yang berpikir kritis dan bertanya "kenapa" pada tiap kalimat berkepentingan yang mereka tulis.

Aku mulai muak dengan semua media. Aku muak dengan mereka yang membalut kepentingan menjijikan dengan gulali manis.

Pernah sekali ku berpikir, bila aku seperti mereka yang tak sadarkan diri dan hanya terima segala hal murah itu. Tak perlu lah aku gila akan diriku sendiri. Tapi aku sangat bersyukur bahwa aku masih waras. Bukan untuk membanggakan diri, tapi dunia ini tak bisa seperti ini terus. aku muak. Harus ada yang berusaha mengeluarkan masa ini dari segala kemurahan interest menjijikan itu, demi masa lebih baik untuk penerus kita nanti. Terderang klise, tapi ya itu lah kenyataan. Kadang dianggap, murah, klise, mustahil, angan-angan tinggi atau apalah.

Balik lagi. Tidak sengaja tadi aku membaca di salah satu kolom di kompas.com mengenai bapak yang berpikir dan observasi mengenai suatu hal karena perkataan anaknya yang berumur 10 tahun. Anak 10 tahun yang peduli akan kebaikan dunia yang murni.

Anak ini membuat ku hilang konsentrasi atas tugas karya tulisku. Anak ini mengingatkan aku, pada sosok yang ku kagumi dan kusesali.

Pada diriku.

Ku kagumi aku yang dulu, karena begitu peduli. Karena begitu kritis, begitu murni dan jujur.
Kusesali. Ya kusesali.. karena aku tak semurni dulu. Aku mudah lelah, muak dan menyerah pada orang-orang tersebut. Aku tak lagi seoptimis dulu bahwa kebaikan dunia memang bisa terwujud. Aku tak sekritis dulu lagi. Aku berubah.

Kusesali pun, karena aku mulai malas banyak bertanya. Bukan karena malu takut dianggap bodoh, tidak sama sekali. Tapi pernah suatu ketika aku kecewa karena tak mendapatkan jawaban yang logis dan memuaskan jiwa. Kutanya siapapun yang kuanggap lebih berbobot dariku. Tak kusalahkan mereka karena jawaban mereka, mungkin memang belum ada jawabannya.

Seperti dalam tulisan tersebut. btw aku memang mengagumi John Lennon dan aku setuju dengan lagu Imagine. Tiap orang bisa menafsirkan hal berbeda-beda. Apa yang aku setuju dari tulisan itu adalah, tak sedikit manusia dengan penafsirannya -yang mereka pikir sempurna- pada akhirnya "membunuh" Tuhan mereka sendiri.

Buat apa berbuat kebaikan untuk surga, buat apa menjauhi keburukan karena takut pada neraka. Mengapa dalam kebajikan pun pamrih. Tujuan agama dan jg kebajikan sebetulnya untuk kecintaan pada Pencipta alam semesta, untuk mengagumi betapa tak terkalahkannya kemampuan Sang Maha Indah. Rasa pamrih itu lah yang mengkotakan-kotakan manusia, saling memukul dengan argumen, saling meludahi dengan sesat-menyesatkan. Tuhan terlalu indah dan kuasa untuk kalian jadikan basis sengketa murah kalian. Tuhan tak memihak, semua umat manusia Dia cintai dengan sempurna. CintaNya sempurna dan tak pantas dikotori oleh interest dunia yang tak ada penghargaan atas kemanusiaan itu sendiri.

Perdamaian dan kebajikan tak pandang bulu. Siapa pun dipihaknya. Sayang sekali, bila kita baca sejarah banyak orang yang pada kebajikan dan kebaikan didunia mati dengan tragis. Entah karena keinginan perdamaian dunia mereka ataupun karena salah tafsir oleh orang-orang yang meresa dirinya suci. Martin Luther King Jr, Mahatma Gandhi dan nama-nama lainnya. Contoh tragis lainnya, John Lennon yang dibunuh bukan karena keinginan baiknya, namun karena ada yang salah tafsir atas pemikirannya yang dituang pada lagu Imagine. Tak hanya itu, Munir aktivis HAM Indonesia pun mati karena interest orang yang tak sepaham dengan pemikiran dia utk kesetaraan hak manusia.

Bila kita baca kitab-kitab dari berbagai agama, tak satupun dari kitab itu yang tak meninggikan perdamaian. Sayang sekali aku tak bisa cantumkan sekarang, karena aku tak hafal diluar kepala dari surah atau bab atau ayat apa.

Apalah arti agama pada akhirnya kalau itu hanya digunakan sebagai tameng kepura-puraan dan hati kotor mu untuk mencapai hal murah yang melukai orang lain. Mungkin kau tak benar-benar beragama, hanya tercatat saja. Mungkin juga aku, tak taulah. Mungkin aku juga yang sekarang terlalu banyak mengeluh dan tak banyak berbuat kebajikan. Tuhan tak nilai kau dari berapa barel minyak yang kau jual dan berapa banyak wilayah yang kau kuasai. Tuhan menyayangimu sebagaimana diri mu dan ketulusan hati mu.

"Imagine" (John Lennon, 1971)

Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today...

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace...

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world...

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one.
 
-aku kamu mereka hanyalah beberapa titik bintang di langit Dia
 
kuharap, aku tak sendiri.

No comments:

Post a Comment