Monday, February 22, 2016

Ntah kenapa, semakin besar angka umur ini makin terasa waktu sangat cepat berlalu. Orang-orang datang dan pergi silih berganti, meninggalkan cerita.. kenangan.. apapun itu bentuknya, tetap kenangan.
Mengenang bukan hal yang terlalu menyenangkan, tapi kadang juga lupa. Pelupa, ya aku jadi pelupa. Ntah sejak kapan, hal yang silih berganti seperti musim di eropa ini mudah sekali tersingkir dari ingatan. Sewaktu ditanya atau lagi ngobrol sama teman, "eh inget ga waktu ini atau itu?", dalam benak hanya bisa berkata, "emangnya pernah ya? apa aku lupa lagi?". Menakutkan.
Secepat itu kah kenangan kecil perlu enyah dari pikiran?

Ini bukan dilakukan dengan sadar, tapi tanpa sadar. Terlalu banyak yang berlalu lalang dalam hidup ini, terlalu cepat berlalu dan terlalu sedikit waktu dilalui. Mungkin aku yang lalai, lalai mengingat, lalai menjaga, lalai melakukan dan lalai-lalai lainnya yang sering sadar tidak sadar kulakukan. Atau hipotesa lain, dengan sengaja aku melalaikannya pada suatu waktu dan terbawa hingga ke masa depan. Ya, bisa jadi.

Agak terusik jika pada satu ketika berkumpul dengan orang-orang yang membahas apa yang telah lewat, segala kenangan. Yang aku ingat dan tidak. Tak paham juga mengapa itu begitu mengganggu diriku. Rasa nya ingin segera menyelesaikan perbincangan itu, "dulu pernah ya ini itu", "inget ga lo waktu...", "pas kapan kan pernah tuh kita gini gitu", "waktu kita kesana kan dulu blablabla", blablablabla. Semua Past Tense itu maupun Past Perfect Tense ini benar-benar membuat kepala pusing.
Kenapa sih hanya selalu terbelunggu masa yang sudah lewat? memang itu bagus, manis, menyebalkan, sedih, tapi perlu ya emang selalu diutarakan berulang-ulang?

Hidup ini maju terus ke depan, tapi kita punya pilihan untuk ikut kedepan atau berbalik kebelakang. Umur dan raga terus tergerus waktu untuk menuju kematian. Mengapa bayang yang lalu selalu dipertahankan sedang bayang masa depan menanti ditangkap wahai manusia-manusia?

Mungkin memang aku yang salah, dalam artian bukan aku tidak benar. Hanya aku bagai balok bintang yang dipaksa masuk ke ukuran balok persegi panjang. Mungkin ya..

Tak menutup kemungkinan juga bahwa aku pernah berlaku seperti itu dan membuat kesal orang lain yang seperti aku yang sekarang ini.

Yasudahlah. Setiap orang punya hak selama tak mencaplok hak orang lain kan ga masalah. Ketidaknyamanan yang muncul kadang juga menjadi sumber ketidaknyamanan yang lain. Hmm. Saat kamu sudah lama tidak dalam suatu "crowd" dan suatu ketika menghampiri itu lagi, yang terpikir adalah "sepertinya ada yg tidak pas disini". Pemikiran ini saja sebuah ketidaknyamanaan, lalu menimbulkan ketidaknyamanan yang lain krn kamu merasa tidak nyaman pada tempat yang sebelumnya kamu termasuk di dalamnya. Pernah suatu ketika berkumpul dengan teman lama di kota asalku, aku merasa berbeda -tak berarti aku benar-. Apa yang dibicarakan, dilakukan dan dalam diamnya pun, terasa asing.

Apa mungkin hal seperti ini wajar dialami saat kamu beranjak dewasa? atau hanya saat bertambah angka umur?

-aku kamu mereka hanyalah beberapa titik bintang di langit Dia